Siapa sih yang tidak kenal sama Indonesia. Negara yang memiliki lebih dari 17ribu pulau-pulau ini sangat kaya akan budaya yang tersebar diseluruh wilayahnya. Mayoritas masyarakatnya memeluk Agama Islam, sisanya menganut agama Kristen, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Indonesia sangat terkenal akan kayanya budaya dari Sabang sampai Merauke. Tak diragukan lagi UNESCO pun sempat menobatkan beberapa penghargaan terhadap situs-situs tertentu di Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Dengan banyaknya budaya, negara kita menjadi warna-warni akan indahnya perbedaan-perbedaan di sejumlah daerah. Kita beda bukan berarti kita tidak bisa bersatu. Banyak yang bilang bahwa sesuatu yang berbeda-beda itu sulit untuk menyatu, seperti halnya air dan minyak yang memiliki massa jenis berbeda sudah jelas dari kedua elemen tersebut sangat sulit untuk menyatu bukan.
Tetapi opini-opini seperti itu tidak berlaku di Indonesia. Biarpun Agama, Suku, Budaya, Ras, Adat Istiadat kita berbeda-beda, kita tak pernah merasa bahwa kita ini berbeda. Tetapi justru dengan segala perbedaan yang ada ini dapat membuat Indonesia menjadi kuat dan kompak. Mereka saling menghormati, toleransi, tidak pernah ribut dan saling menyayangi satu sama lain. Itulah hebatnya Indonesia. Banyak masyarakat Indonesia menilai bahwa dengan semua perbedaan-perbedaan yang ada seperti ini, mereka malah menganggap suatu keistimewaan Indonesia yang tak dimiliki oleh negara-negara lain. Masyarakat Indonesia sangat mensyukuri adanya perbedaan ini, mereka dapat saling melengkapi satu sama lain. Kita memiliki Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila. Pancasila sebagi dasar negara Indonesia dengan paduan semboyan Bhineka Tunggal Ika. Itu adalah alasan mengapa masyarakat Indonesia harus bersatu walaupun berbeda.
Siapa yang tidak kenal dengan presiden Indonesia yang pertama ini, Soekarno, atau yang lebih akrab dipanggil Bung Karno adalah seorang pahlawan sekaligus proklamator kemerdekaan Republik Indonesia. Soekarno dikenal karena wibawa dan pengaruhnya terhadap bangsa Indonesia. Soekarno juga dikenal sebagai orator ulung yang mampu mempengaruhi dan mengobarkan semangat rakyat melalui pidatonya yang berapi-api. Hingga saat ini telah banyak pidato, baik teks, dokumentasi maupun rekaman video dari Bung Karno yang sangat terkenal hingga saat ini, salah satunya saat beliau berpidato tentang pentingnya Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila sebagai semen batin untuk menyatukan seluruh bangsa Indonesia.
“Kehidupan suatu bangsa, sebagaimana kehidupan manusia, selalu mengenal dua alam. Alam batin dan alam zahir, alam spiritual dan alam materil. Soal memelihara kesatuan bangsapun, politis dan ekonomis, mengenal dua alam ini.
Kita harus memberi alat-alat perekat batin dan alat-alat perekat zahir kepada bangsa Indonesia supaya kesatuannya makin sempurna. Alat perekat batin amat perlu. Kesatuan suatu bangsa hanyalah dapat hidup benar-benar, jika didasarkan atas suatu dasar yg lebih luas daripada bangsa itu sendiri. Dasar yg lebih luas itu ialah dasarnya batin, dasarnya jiwa.
Alat perekat batin yg utama bagi bangsa Indonesia ialah Pancasila. Ingat, kita ini bukan dari satu suku bangsa, bukan dari satu adat istiadat.
Ingat, kita ini bukan dari satu agama. Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi satu, demikianlah tertulis di lambang negara kita.Ingat, kita ini "bhineka", kita ini berbeda-beda. Dan untuk mempersatukan bangsa yang banyaknya 80 juta jiwa yang berbeda-beda itu diperlukan satu "semen batin" yang dapat menyemen seluruh bangsa Indonesia yang beraneka warna itu, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai ke Numodale, adalah Pancasila.
Aku telah datang ke daerah-daerah Islam, aku juga mengunjungi daerah-daerah luas yang rakyatnya Katolik dan Kristen. Aku sering berada di tengah rakyat kita yang beragama Siwa dan Budha. Aku sering didatangi utusan dari suku Dayak.
Dari apa yg kudengar dan kulihat itu semua, satu-satunya Dasar Negara yg dapat mempersatukan bangsa kita yg beraneka suku dan beraneka agama itu ialah dasar Pancasila.
Sampai-sampai saudara suku Irian yang dengan manaikin perahu sederhana menjumpai aku di dusun kecil Weda di pantai Halmahera (Maluku Utara), membawa pernyataan yg berbunyi: "Kami ingin lekas masuk ke dalam wilayah kekuasaan Republik Indonesia, dan kami hanya mau masuk, kalau Republik Indonesia tetap berdasarkan Pancasila".
“Kehidupan suatu bangsa, sebagaimana kehidupan manusia, selalu mengenal dua alam. Alam batin dan alam zahir, alam spiritual dan alam materil. Soal memelihara kesatuan bangsapun, politis dan ekonomis, mengenal dua alam ini.
Kita harus memberi alat-alat perekat batin dan alat-alat perekat zahir kepada bangsa Indonesia supaya kesatuannya makin sempurna. Alat perekat batin amat perlu. Kesatuan suatu bangsa hanyalah dapat hidup benar-benar, jika didasarkan atas suatu dasar yg lebih luas daripada bangsa itu sendiri. Dasar yg lebih luas itu ialah dasarnya batin, dasarnya jiwa.
Alat perekat batin yg utama bagi bangsa Indonesia ialah Pancasila. Ingat, kita ini bukan dari satu suku bangsa, bukan dari satu adat istiadat.
Ingat, kita ini bukan dari satu agama. Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi satu, demikianlah tertulis di lambang negara kita.Ingat, kita ini "bhineka", kita ini berbeda-beda. Dan untuk mempersatukan bangsa yang banyaknya 80 juta jiwa yang berbeda-beda itu diperlukan satu "semen batin" yang dapat menyemen seluruh bangsa Indonesia yang beraneka warna itu, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai ke Numodale, adalah Pancasila.
Aku telah datang ke daerah-daerah Islam, aku juga mengunjungi daerah-daerah luas yang rakyatnya Katolik dan Kristen. Aku sering berada di tengah rakyat kita yang beragama Siwa dan Budha. Aku sering didatangi utusan dari suku Dayak.
Dari apa yg kudengar dan kulihat itu semua, satu-satunya Dasar Negara yg dapat mempersatukan bangsa kita yg beraneka suku dan beraneka agama itu ialah dasar Pancasila.
Sampai-sampai saudara suku Irian yang dengan manaikin perahu sederhana menjumpai aku di dusun kecil Weda di pantai Halmahera (Maluku Utara), membawa pernyataan yg berbunyi: "Kami ingin lekas masuk ke dalam wilayah kekuasaan Republik Indonesia, dan kami hanya mau masuk, kalau Republik Indonesia tetap berdasarkan Pancasila".
Sudah jelas dengan semboyan ini perbedaan-perbedaan diantara kita semua bisa menjadi satu kesatuan yang sangat indah. Tetapi jangan sekali-sekali kita mencoba untuk menyamakan kebhinekaan. Kenapa!, jikalau ada diantara kita mencoba untuk menyamakan kebhinekaan itu sama saja halnya ingin memecah belah bangsa. Kebhinekaan itu tidak boleh disamakan dengan cara apapun. Bali punya budaya sendiri, Jawa punya budaya sendiri, Papua pun sama mereka memiliki budaya sendiri. Jangan sekali-sekali diantara kita mencoba untuk menyamakan budaya satu dengan budaya lainnya, itu sama saja halnya ingin memecah belah bangsa.
Negara Indonesia adalah Negara Kesatuan, sudah jelas di mana pada tanggal 28 Oktober 1928 pemuda-pemudi Indonesia bersatu dan berikrar menyuarakan Sumpah Pemuda, yang berbunyi:
PERTAMA. Kami Putra dan Putri Indonesia Mengaku Bertumpah Darah Satu Tanah Air Indonesia.
KEDUA. Kami Putra dan Putri Indonesia Mengaku Berbangsa Satu Bangsa Indonesia.
KETIGA. Kami Putra dan Putri Indonesia Menjunjung Bahasa Persatuan Bahasa Indonesia.
Kalau kita lihat Sumpah Pemuda yang mengatakan Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa Indonesia, maka ada tiga aspek Persatuan Indonesia, yaitu:
1. Aspek Satu Nusa: Yaitu aspek wilayah, nusa berarti pulau, jadi wilayah yang dilambangkan untuk disatukan adalah wilayah pulau-pulau yang tadinya bernama Hindia Belanda yang saat itu dijajah oleh Belanda. Ini untuk pertama kalinya secara tegas para pejuang kemerdekaan mengklaim wilayah yang akan dijadikan wilayah Indonesia Merdeka.
2. Aspek Satu Bangsa: Yaitu nama baru dari suku-suku bangsa yang berada dibawah wilayah yang tadinya bernama Hindia Belanda memproklamirkan satu nama baru sebagai Bangsa Indonesia. Ini adalah awal mula dari rasa nasioalisme kesatuan Bangsa yang berada diwilayah Sabang sampai Merauke.
3. Aspek Satu Bahasa: Yaitu agar wilayah dan bangsa baru yang berdiri darisuku dan bahasa yang berbeda-beda bisa berkomunikasi dengan baik, maka dipakailah Bahasa Indonesia yang ditarik dari Bahasa Melayu dengan pembaharuan yang bernuansakan Pergerakan kearah Indonesia yang Merdeka. Untuk pertama kali para pejuang bangsa memproklamirkan Bahasa yang akan dipakai oleh Bangsa Indonesia adalah Bahasa Indonesia.
Negara Indonesia adalah Negara Kesatuan, sudah jelas di mana pada tanggal 28 Oktober 1928 pemuda-pemudi Indonesia bersatu dan berikrar menyuarakan Sumpah Pemuda, yang berbunyi:
PERTAMA. Kami Putra dan Putri Indonesia Mengaku Bertumpah Darah Satu Tanah Air Indonesia.
KEDUA. Kami Putra dan Putri Indonesia Mengaku Berbangsa Satu Bangsa Indonesia.
KETIGA. Kami Putra dan Putri Indonesia Menjunjung Bahasa Persatuan Bahasa Indonesia.
Kalau kita lihat Sumpah Pemuda yang mengatakan Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa Indonesia, maka ada tiga aspek Persatuan Indonesia, yaitu:
1. Aspek Satu Nusa: Yaitu aspek wilayah, nusa berarti pulau, jadi wilayah yang dilambangkan untuk disatukan adalah wilayah pulau-pulau yang tadinya bernama Hindia Belanda yang saat itu dijajah oleh Belanda. Ini untuk pertama kalinya secara tegas para pejuang kemerdekaan mengklaim wilayah yang akan dijadikan wilayah Indonesia Merdeka.
2. Aspek Satu Bangsa: Yaitu nama baru dari suku-suku bangsa yang berada dibawah wilayah yang tadinya bernama Hindia Belanda memproklamirkan satu nama baru sebagai Bangsa Indonesia. Ini adalah awal mula dari rasa nasioalisme kesatuan Bangsa yang berada diwilayah Sabang sampai Merauke.
3. Aspek Satu Bahasa: Yaitu agar wilayah dan bangsa baru yang berdiri darisuku dan bahasa yang berbeda-beda bisa berkomunikasi dengan baik, maka dipakailah Bahasa Indonesia yang ditarik dari Bahasa Melayu dengan pembaharuan yang bernuansakan Pergerakan kearah Indonesia yang Merdeka. Untuk pertama kali para pejuang bangsa memproklamirkan Bahasa yang akan dipakai oleh Bangsa Indonesia adalah Bahasa Indonesia.
Wow luar biasa bukan, bahwa pemuda-pemudi Indonesia waktu itu sungguh-sungguh berani bersatu bersama untuk menyuarakan sumpah pemuda demi Indonesia, demi bersatunya membela Indonesia. Terkadang juga banyak masyarakat asing merasa iri melihat kerukunan masyarakat Indonesia. Sampai-sampai mereka jadi jatuh cinta sama Indonesia dan berkeinginan untuk menjadi WNI. Itu semua karena mereka telah melihat umat beragam di Indonesia yang saling menghormati, mengayomi, dan toleransi. Walaupun itu semua berbeda, tujuan kita adala sama. Yaitu sama-sama memajukan Indonesia. Demi kepentingan bersama.
Oleh sebab itu marilah kita jaga Bhineka Tunggal Ika dengan sebaik-baiknya agar Persatuan Bangsa dan Negara Indonesia tetap terjaga dan kita haruslah sadar bahwa menyatukan bangsa ini perlu waktu yang panjang yang dilakukan oleh para pendahulu kita dalam menyatukan wilayah Indonesia menjadi Negara Kesatuan.
Beda buda bukan berarti beda tujuan.
NKRI HARGA MATI.
Beda buda bukan berarti beda tujuan.
NKRI HARGA MATI.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar